Minggu, 01 Oktober 2017

PERSEPSI SOSIAL

Makalah
Persepsi Sosial
Dosen Pengampu : Cici Yulia, M.Pd.
Disusun sebagai Tugas Mata Kuliah Bimbingan dan Konseling Sosial

 Hasil gambar untuk LOGO FKIP UHAMKA
Disusun Oleh :
Kelas : 3A
      1.      Fikriyyah Hanifah                   1601015021
      2.      Zainina Sabihah                      1601015105
      3.      Hafidz M. Harahap                 1601015070


PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA
2017



KATA PENGANTAR


            Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Bimbingan dan Konseling Sosial tentang Persepsi Sosial.

            Makalah ini telah kami susun dengan maksimal sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

            Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.      

            Akhir kata kami berharap semoga makalah Bimbingan dan Konseling Sosial tentang Persepsi Sosial ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

           



                                                                                      Jakarta, 29 September 2017


Penyusun



DAFTAR ISI







BAB 1

PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG


                Ketika terjadi kontak sosial, secara sadar ataupun tidak, kita biasanya berusaha untuk membangun pemahaman mengenai orang-orang yang ada disekitar kita. Sebagian orang mungkin tampak sebagai orang ramah, pengertian, suka mengalah, solider, dan senang bergaul; sebagian lagi tampak arogan, sok tahu, dominan, ngotot, dan sangat percaya diri. Proses yang kita lakukan di dalam memahami dan menilai orang lain selama terjadi interaksi sosial tersebut biasa disebut dengan persepsi sosial. Mengapa kita melakukan persepsi sosial? Menurut Heider (1958), persepsi sosial tersebut bersumber dari dua kebutuhan yaitu kebutuhan untuk memahami (need of cognition) dan kebutuhan untuk mengendalikan lingkungan (need of control).
Pertama, kita mempunyai kebutuhan untuk memahami lingkungan, termasuk kebutuhan untuk memahami orang-orang yang ada disekitar kita. Tentu, kita tidak akan nyaman jika berbicara dengan orang namanya saja tidak diketahui; atau kita pun akan merasa kebingungan dengan perilaku seorang teman yang tiba-tiba saja berubah menjadi begitu sangat perhatian kepada kita. Kejadian tersebut membuat bingung dan tidak nyaman karena pada saat itu tidak tahu karakteristik ataupun motivasi dari orang tersebut. Kita menjadi khawatir karena tidak ada kepastian bahwa karakteristik dan motivasi perilaku mereka tersebut tidak akan berdampak buruk pada kehidupan kita.
Kebutuhan yang kedua adalah kebutuhsn untuk mengendalikan lingkungan. Kebutuhan untuk mengendalikan tersebut berkaitan dengan kebutuhna untuk memahami. Pemahaman mengenai karakteristik dan motivasi orang lain, akan membuat kita lebih mudah di dalam memprediksi dan menentukan apa yang sebaiknya kita lakukan. Jika berada di tengah orang-orang yang sama sekali tidak dikenal, kita akan mengalami ketidaknyamanan dan kebingungan di dalam menentukan sikap dan perilaku yang paling tepat dan tidak akan menimbulkan kesulitan. Kebingungan tersebut sebagiannya bersumber dari ketidaktahuan dan ketidakmampuan mengendalikan lingkungan yang ada di sekitar kita. Oleh karena itu, supaya dapat memenuhi kedua kebutuhan tersebut, kita kemudian melakukan persepsi sosial sehingga lingkungan sosial menjadi lebih bisa dipahami dan diprediksi.

B. RUMUSAN MASALAH


Dari latar belakang di atas, maka kita dapat menyimpulkan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :

1.      Apa Konsep Dasar dalam Persepsi Sosial?
2.      Apa Saja Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Sosial?
3.      Apa Saja Bias Dalam Persepsi Sosial?
4.      Apa Saja Elemen-Elemen dalam Persepsi Sosial?
5.      Apa Saja Sifat-Sifat dalam Persepsi Sosial?

C. TUJUAN PENULISAN MAKALAH


1.      Mengetahui apa konsep dasar dalam persepsi sosial,
2.      Mengetahui apa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi persepsi sosial,
3.      Mengetahui apa bias dalam persepsi sosial,
4.      Mengetahui apa elemen-elemen yang terdapat dalam persepsi sosial,
5.       Mengetahui apa sifat-sifat yang terdapat dalam persepsi sosial.


A.  Konsep Dasar Persepsi Sosial

1.      Pengertian Persepsi Sosial
Persepsi berlangsung saat seseorang menerima stimulus dari dunia luar yang ditangkap oleh organ-organ bantunya yang kemudian masuk ke dalam otak. Di dalamnya terjadi proses berpikir yang pada akhirnya terwujud dalam sebuah pemahaman. Pemahaman ini yang kurang lebih disebut persepsi. Sebelum terjadi persepsi pada manusia, diperlukan sebuah stimuli yang harus ditangkap melalui organ tubuh yang bisa digunakan sebagai alat bantu untuk memahami lingkungannya. Alat bantu itu dinamakan alat indra. Indra yang saat ini diketahui secara universal adalah hidung, mata, telinga, lidah, dan kulit. Alat indra merupakan penghubung antara individu dengan dunia luarnya.
Sebagai contoh pada seorang bayi yang baru lahir, bayangan – bayangan yang sampai ke otak masih tercampur aduk sehingga bayi belum dapat membeda-bedakan benda-benda dengan jelas. Semakin besar anak itu, semakin baik struktur susunan syaraf dan otaknya, serta bertambahnya pengalaman anak tersebut. Dia mulai dapat mengenal banyak objek satu-persatu, membedakan antara satu benda dengan benda yang lainnya dan mengelompokan benda-benda yang berdekatan atau serupa. Dia mulai dapat memfokuskan perhatiannya pada satu objek, sedangkan objek-objek yang lain si sekitarnya dianggap sebagai latar belakang. Kemampuan untuk membeda-bedakan, mengelompokan, memfokuskan dan sebagainya itu, yang selanjutnya diinterpretasikan disebut persepsi.
Persepsi dalam pengertian psikologi adalah proses pencarian informasi untuk dipahami, jadi melalui persepsi sosial kita berusaha mencari tahu dan memahami orang lain. Lebih khususnya lagi, dengan persepsi sosial kita berusaha (1) Mengetahui apa yang dipikirkan, dipercaya, dirasakan, diniatkan, dikehendaki, dan didambakan orang lain; (2) Membaca apa yang ada di dalam diri orang lain berdasarkan ekpresi wajah, tekanan suaram gerak-gerik tubuh, kata-kata, dan tingkah laku mereka; (3) Menyesuaikan tindakan sendiri dengan keberadaan orang lain berdasarkan pengetahuan dan pembacaan terhadap orang tersebut (Sarlito dan Eko, 2009).
Robbins (Dr. Fattah Hanurawan, 2010), mengemukakan bahwa persepsi sosial adalah proses dalam diri seseorang yang menunjukan organisasi dan interpretasi terhadap kesan-kesan inderawi, dalam usaha untuk memberi makna terhadap orang lain sebagai objek persepsi.
Menurut Moskowitz dan Ogel (dalam Walgito, 2003:54) persepsi merupakan proses yang integrated dari individu terhadap stimulus yang diterimanya. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa persepsi itu merupakan proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu.
Menurut Leavit (dalam Sobur, 2003:445) persepsi dalam arti sempit adalah penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat sesuatu, sedangkan dalam arti luas persepsi adalah pandangan atau pengertian yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu.
Persepsi dalam pengertian psikologi menurut Sarwono (2002:94) adalah proses pencarian informasi untuk dipahami. Alat untuk memperoleh informasi tersebut adalah penginderaan (penglihatan, pendengaran, peraba dan sebagainya). Sebaliknya, alat untuk memahaminya adalah kesadaran atau kognisi. Dalam hal persepsi mengenai orang itu atau orang-orang lain untuk memahami orang dan orang-orang lain, persepsi itu dinamakan persepsi sosial dan kognisinya pun dinamakan kognisi social.
Dalam Persepsi sosial ada dua hal yang ingin diketahui yaitu keadaan dan perasaan orang lain saat ini, di tempat ini melalui komunikasi non-lisan (kontak mata, busana, gerak tubuh, dan sebagainya) atau lisan dan kondisi yang lebih permanen yang ada dibalik segala yang tampak saat ini (niat, sifat, motivasi, dan sebagainya) yang diperkirakan menjadi penyebab dari kondisi saat ini. Hal yang terakhir ini bersumber pada kecenderungan manusia untuk selalu berupaya guna mengetahui apa yang ada di balik gejala yang ditangkapnya dengan indra (Sarwono, 2002:95).

2.      Proses Persepsi Sosial
Persepsi orang sebagai semacam proses yang relative rasional dalam mengambil informasi tentang orang lain dan mengorganisasikannya berdasarkan prinsip tertentu. Tujuan dan perasaan kita terhadap orang lain juga memengaruhi pandangan kita tentang informasi yang kita kumpulkan mengenai orang lain. Salah satu faktor yang memengaruhi cara kita mengumpulkan informasi tentang orang lain adalah tujuan kita dalam berinterkasi dengan mereka. Psikolog telah mempelajari tujuan dan dampak tujuan persepsi seseorang melalui sebuah eksperimen, seperti meminta partisipan untuk membentuk kesan yang koheren tentang orang lain (tujuan membentuk kesan) atau untuk mengingat beberapa informasi terpisah (tujuan mengingat). Secara umum, dalam rangka membuat kesan, orang membentuk kesan tentang orang lain secara lebih tertata apabila tujuannya adalah untuk mengingat informasi saja (Matheson, Holmes, & Kristiansen, 1991).
Dalam buku Sarwono, Sarlito W. 2002 diambil contoh (Diringkas dari cerpen karangan Putu Wijaya dalam Pelajaran Mengarang, Cerpen Pilihan, Kompas, 1993)

Bule dan orang Bali ini adalah dua sahabat lama. Ketika Bule tertirah di Bali, Wayan banyak memberikan petunjuk dan suka mengantarkan Bule melihat objek-objek menarik yang bukan pasaran turi. Antara mereka sudah terjalin persahabatan.
“Mister John sudah seperti saudara meskipun warga kulit lain. Pak John sudah makan dan tidur di rumah saya yang sederhana. Saya merasa salah kalau tidak sempat melihat Mister John sebelum berangkat,” tulis Wayan kepada John yang tinggal di Jakarta dan akan segera kembali ke negerinya.
John jadi terenyuh. Ia membelikan tiket untuk Wayan. Tetapi ketika Wayan datang, ia tidak sendiri. Ia ditemani oleh keponakannya, seorang anak muda. Wayan mengaku tidak berani ke Jakarta sendiri, takut tersesat.
Mister John kaget. Ia menganggap itu di luar perencanaannya, khususnya perencanaan budgetnya. Tetapi, karena Wayan mengeluh terus tentang pinjaman uang ke tetangga-tetangganya untuk ongkos tiket keponakannya ini, John akhirnya bersedia mengganti ongkos tiket itu. Ia tak mau kegembiraan Wayan terganggu.

Dalam kutipan cerita pendek di atas, misalnya, John mempersepsikan Wayan sebagai pribumi yang ramah, mengajaknya makan dan tidur di rumahnya, mengajaknya jalan-jalan ke tempat yang bukan pasaran turis dan ia menyimpulkan bahwa perilaku Wayan itu disebabkan oleh sifatnya yang baik hati. Oleh karena itu, John mengatribusikan Wayan sebagai orang yang baik hati. Akan tetapi, atribusi itu berubah setelah ada informasi tambahan sehingga akhirnya John menganggap Wayan sebagai orang yang menyusahkan saja. Demikian juga, Wayan mempersepsikan John sebagai bule yang tidak sombong, yang mau diajak makan dan tidur di rumahnya yang sederhana, karena itu atribusi yang diberikan Wayan kepada John adalah baik hati dan mungkin juga murah hati. Akan tetapi, setelah Wayan ke Jakarta, ternyata John tidak mau membelikan tiket untuk keponakannya dan menyuruhnya pulang cepat-cepat. Simpulan Wayan adalah perilaku John disebabkan oleh sifatnya yang menjajah orang dan itulah atribusi yang diberikan Wayan kepada John di akhir kisah.
Persepsi dan atribusi ini sifatnya memang sangat subjektif, yaitu tergantung sekali pada subjek yang melaksanakan persepsi dan atribusi itu. Perilaku membunuh, misalnya, dapat dianggap kelakuan penjahat yang sadis, bela diri atau kepahlawanan. Sapaan seorang pria kepada rekan wanitanya dengan menyentuh punggungnya, misalnya, dapat dianggap pelecehan seksual oleh wanita, walapun pria yang bersangkutan hanya menganggapnya sebagai keramah-tamahan biasa.
Persepsi sosial kadang-kadang serupa, sama atau seragam, sementara kadang-kadang juga berbeda. Dijelaskan oleh Kenny (1994) bahwa ada perbedaan antara persepsi tentang orang (person perception), yaitu 1) objeknya lebih abstrak, (lebih hipotetis) sehingga orang cenderung memberi persepsi yang sama; 2) objeknya lebih konkret atau merupakan pengalaman pribadi. Dalam hubungan antara pribadi yang lebih konkret itu lebih banyak faktor yang berpengaruh, seperti motif, perilaku kita sendiri terhadap orang lain yang kemudian mempengaruhi perilaku orang tersebut tentu saja proses kognitif itu sendiri yang menjadi lebih majemuk.
Selain perbedaan persepsi menurut Kenny, faktor perbedaan kepribadian juga berpengaruh terhadap persepsi sosial, misalnya ekstroversi dan introversi (Ambudy dkk.,1995), kesadaran akan diri sendiri, rasa malu, dan cemas (Schroeder,1995), kemampuan social dan tingkat kecemasan (Tur & Bryan, 1993).
Persepsi sosial berbeda dari persepsi pada umumnya, yaitu persepsi sosial sangat menggantungkan diri pada komunikasi. Persepsi seseorang tentang orang lain sangat bergantung pada komunikasi yang terjadi antara keduanya. Komunikasi yang dimaksud tidak berti hanya komunikasi lisan (percakapan), tetapi juga komunikasi nonlisan (gerak, tubuh, ekspresi, wajah, dan sebagainya). Komunikasi nonlisan jauh lebih bermakna daripada komunikasi lisan dalam persepsi sosial.
Contohnya adalah dalam bertelpon. Kalau yang menerima telepon adalah mesin penjawab otomatis (answering machine) atau suara komputer, maka kita hanya bisa menerima informasi belaka (“Halo, kami sedang tidak di rumah, titipkan pesan Anda setelah terdengar nada bip” atau “Terima kasih Anda telah menggunakan jasa PT TELKOM. Untuk mengetahui rekening Anda bulan lalu, silakan tekan satu...., dan seterusnya”). Tidak ada atribusi yang dapat kita simpulkan dari komunikasi sejenis ini, yaitu apakah suara mesin atau komputer itu marah atau ramah tidak dapat ditetapkan sama sekali. Sebaliknya, jika dua orang bertatap muka, walapun tidak biacara sekalipun, dapat timbul atribusi-atribusi tertentu, yaitu apakah orang itu tersenyum atau mengedipkan mata, atau wajahnya cemberut, dan sebagainya semuanya itu mennyebabkan kita dapat memperkirakan atribusi di balik perilaku. Apalagi antara dua orang yang berpacaran. Biar diam seribu bahasa, dua pasang mata yang berpandangan dapat menjadi pengungkap rasa. Dengan demikian, kalaupun atribusi terjadi komunikasi lisan, penyimpulan atau perkiraan atribusi bukan didasarkan oleh isi ucapan-ucapan lisan semata, melainkan karena perilaku yang menyertai komunikasi lisan itu. Dalam kasus cerpen di atas, misalnya, John mengatribusikan Wayan sebagai pribumi yang wataknya jelek bukan karena kata-katanya semata, melainkan karena selama Wayan tinggal di rumah John ia tidak pernah menanyakan keadaan John dan tiba-tiba ia membawa keponakannya tanpa persetujuan John.
Dalam percakapan telepon (tanpa tatap muka) jika percakapan itu terjadi secara langsung antarpribadi, terjadi proses saling memberi atribusi. Akan tetapi, bukan berdasarkan isi percakapan, melainkan berdasarkan nada suara, tekanan suara, tarikan napas, teriakan kecil, tangisan, keluhan, tawa, dan isyarat-isyarat nonlisan lainnya.
Komunikasi lisan sering kali kurang dapat dipercaya dibandingkan dengan komunikasi nonlisan. Oleh karena itu, di kalangan pemuda-pemudi yang sedang dirundung asmara ada istilah “rayuan gombal” atau “janji palsu” atau “berani sumpah tapi takut mati”.
Namun demikian, jangan disangka bahwa komunikasi lisan sudah pasti mencerminkan keadaan diri seseorang secara benar seratus persen. Friesen (1972), misalnya, pernah membuat penelitian terhadap sekelompok mahasiswa Jepang dan Amerika.  Mereka dipertunjukkan dua buah film, yaitu film tentang penyikasaan manusia dan film biasa. Kelompok pertama dari mahasiswa Jepang dan Amerika melihat film di antara mereka sendiri (tanpa kehadiran dosen), sedangkan kelompok kedua menontonya dengan dihadiri dosen. Selama mereka menonton, wajah mereka direkam dengan video. Hasilnya cukup menakjubkan. Pada kelompok yang tidak dihadiri dosen, mahasiwa Jepang dan Amerika sama-sama menunjukkan ekspresi wajah muak sewaktu menonton film penyiksaan. Sebaliknya, pada kelompok kedua yang menonton bersama dosennya, mahasiswa Amerika tetap memperlihatkan wajah muak, sementara siswa-siswa Jepang tenang-tenang saja malah tersenyum-senyum. Jelaslah bahwa walapun emosi mungkin sama pada semua orang tetapi cara mengekspresikan emosi berlainan antara satu kebudayaan dan kebudayaan lain.
Jadi, kita pun harus berhati-hati dalam memberikan atribusi pada suatu perilaku. Seorang kasir tokoh swalayan yang tersenyum kepada setiap pelanggan, belum tentu benar-benar berhati-hati ramah karena mungkin senyum hanya karena tugas pekerjaannya saja. Sebaliknya, seorang satpam yang membentak anak-anak kampung agar keluar dari kawasan pertokoan yang dijaganya, belum tentu berhati bengis terhadap anak-anak.
Penelitian lainnya adalah dampak proses persepsi sosial dalam perkawinan, misalnya, dampak kita lihat dalam penelitian terhadap 44 pasangan suami-istri di Norwegia. Hasil penelitian membuktikan bahwa pasangan yang dapat saling mengerti melalui komunikasi dan sama-sama merasa dapat saling mempengaruhi (meminta pasangannya untuk melakukan hal tertentu dan benar-benar dilakukan oleh pasangannya) akan mempunyai lebih sedikit masalah daripada pasangan-pasangan yang lebih egosentris (kurang mau mendengar pihak lain) (Wichstrom & Holte, 1993).

B.  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Sosial
       Menurut Stephen P. Robbin (1989) mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor utama yang memberi pengaruh terhadap pembentukan persepsi sosial seseorang. Faktor-faktor itu adalah faktor penerima (the perceiver), situasi (the situation), dan objek sasaran (the target).

1.    Faktor Penerima
Pemahaman sebagai suatu proses kognitif akan sangat dipengaruhi oleh karakteristik kepribadian seorang pengamat. Diantara karakteristik kepribadian utama itu adalah konsep diri, nilai dan sikap, pengalaman di masa lampau, dan harapan-harapan yang terdapat dalam dirinya.
Seseorang yang memiliki konsep diri (self concept) yang tinggi dan selalu merasa diri secara mental dalam keadaan sehat, cenderung melihat orang lain dari sudut tinjauan yang bersifat positif dan optimistik, dibandingkan seseorang yang memiliki konsep diri rendah. Orang yang memegang nilai dan sikap otoritarian tentu akan memiliki persepsi sosial yang berbeda dengan orang yang memegang nilai dan sikap liberal. Pengalaman di masa lalu sebagai bagian dasar informasi juga menentukan pembentukan persepsi seseorang. Harapan-harapan sering kali memberi semacam kerangka dalam diri seseorang untuk melakukan penilaian terhadap orang lain ke arah tertentu.

2.    Faktor Situasi
Definisi situasi adalah makna yang diberikan individu terhadap suatu keadaan atau interpretasi individu terhadap faktor-faktor sosial yang ditemui pada ruang dan waktu tertentu. Pengaruh faktor situasi dalam proses persepsi sosial dapat dipilah menjadi tiga, yaitu:
Seleksi à Seseorang akan lebih memusatkan perhatiannya pada objek-objek yang dianggap lebih disukai, ketimbang objek-objek yang tidak disukainya. Proses kognitif ini disebut dengan seleksi informasi tentang keberadaan suatu objek, baik yang bersifat fisik maupun sosial.
Kesamaan à Kesamaan adalah kecenderungan dalam proses presepsi sosial untuk mengklasifikasikan orang-orang ke dalam suatu katagori yang kurang lebih sama. Seperti berlatar belakang jenis kelamin, status sosial, dan etnik.
Organisasi à Dalam proses persepsi sosial, individu cenderung untuk memahami orang lain sebagai objek persepsi ke dalam sistem yang bersifat logis, teratur, dan runtun. Pemahaman sistematik semacam itu biasa disebut dengan organisasi perceptual.
Para ahli psikologi sosial memandang situasi sebagai keseluruhan faktor yang dapat mempengaruhi perilaku individu pada ruang dan waktu tertentu.
Definisi situasi adalah makna yang diberikan individu terhadap suatu keadaan atau interpretasi individu terhadap faktor-faktor sosial yang ditemui pada ruang dan waktu tertentu. Para ahli sosiologi menyimpulkan bahwa apabila manusia mendefinisikan situasi sebagai sesuatu yang bersifat nyata, maka itu akan menjadi nyata dalam konsekuensi perilakunya.

3.    Faktor Objek                          
Dalam persepsi sosial secara khusus, objek yang diamati itu adalah orang lain. Ada empat ciri yang terdapat dalam diri objek yang dapat memberi pengaruh terhadap terbentuknya persepsi sosial, yaitu:
Keunikan à Ciri-ciri unik yang terdapat dalam diri seseorang adalah salah satu unsur penting yang menyebabkan orang lain merasa tertarik untuk memusatkan perhatiannya.
Kekontrasan à Seseorang akan lebih mudah dipersepsi orang lain terutama apabila ia memiliki karakteristik berbeda disbanding lingkungan fisik maupun sosialnya.
Ukuran dan intensitas yang terdapat dalam diri objek à Dalam konteks ini, seorang Miss world dengan ukuran fisik tertentu dan wajah cantik akan lebih mudah menmbulkan kesan pada orang lain ketimbang apabila seseorang melihat gadis-gadis pada umumna.
Kedekatan (proximity) objek dengan latar belakang sosial orang lain. à Orang-orang dalam suatu departemen tertentu akan cenderung untuk diklasifikasikan sebagai memiliki ciri-ciri yang sama karena hubungan yang dekat di antara mereka.
Menurut Rakhmat (1994): Krech dan Crutchfield (1975) (dalam Sobur:460) faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dapat dikategorikan menjadi:
1.    Faktor fungsional
Faktor fungsional dihasilkan dari kebutuhan, kegembiraan (suasana hati), pelayanan, dan pengalaman masa lalu seseorang individu.

2.    Faktor-faktor struktural
Faktor-faktor struktural berarti bahwa faktor-faktor tersebut timbul atau dihasilkan dari bentuk stimulus dan efek-efek netral yang ditimbulkan dari sistem syaraf individu.

3.    Faktor-faktor situasional
Faktor ini banyak berkaitan dengan bahasa nonverbal. Petunjuk proksemik, petunjuk kinesik, petunjuk wajah, petunjuk paralinguistik adalah beberapa dari faktor situasional yang mempengaruhi persepsi.

4.    Faktor personal
Faktor personal ini terdiri atas pengalaman, motivasi dan kepribadian.

C.  Bias dalam Persepsi Sosial

Seringkali penilain seseorang atas orang lain hanya didasarkan pada penampilan disaat orang-orang tersebut pertama kali berinteraksi. Dengan kata lain orang sering menilai orang hanya berdasarkan penampilan pertamanya. Orang yang menampilkan kesan baik pada saat pertama kali bertemu, cenderung dianggap baik untuk seterusnya. Bias atau deviasi seperti ini biasanya disebut sebagai bias efek halo. Namun demikian kadang-kadang kita juga cenderung menilai orang yang menampilkan kesan buruk pada saat kita pertama kali bertemu dengannya sebagai orang buruk seterusnya. Bias seperti ini disebut Negativitas.
Kecenderungan mengandalkan penilaian terhadap orang lain pada kesan pertama akan menjadi atau menimbulkan bias karena penyimpulan yang dibuat tersebut tidak didasari informasi yang lengkap (sarlito, 2009) Informasi tentang seseorang yang diperoleh pada saat pertama kali bertemu tidaklah mewakili keseluruhan pikiran dan perasaan orang tersebut.
Dalam keseharian, tidak jarang kita menilai seseorang dari rangkaian tindakannya yang dapat kita asosiasikan dengan sifat-sifat tertentu. Sebagai contoh misalnya, suatu ketika pada saat perkuliahan sudah dimulai lebih kurang setengah jam, masuklah seorang mahasiswa yang datang terlambat. Dengan terburu-buru mahasiswa tersebut mencari tempat duduk yang masih kosong dan tersedia untuknya. Setelah duduk mahasiswa tersebut segera mengeluarkan beberapa barang dari tasanya dengan tergopoh-gopoh pula, kemudian memasukkan lagi ke dalam tasnya karena tidak menemukan barang yang dicarinya. Kemudian dengan tergopoh pula dia mencari sesuatu di semua saku baju dan celannya dan sepertinya dia menemukan apa yang dia cari. Pakaian yang dikenakannya tampak kusut dan rambutnya tidak tersisir rapi. Dari contoh misal tersebut bisa saja kita dengan mudah menilainya sebagai orang yang tidak tertip dan tidak bisa mengatur dirinya dengan baik dan juga orang yang berantakan. Apakah penilaian kita tersebut akurat ? bisa jadi, tidak. Mahasiswa itu menampilkan tingkah laku tersebut, bisa jadi karena dalam perjalanan menuju ke kampus kendaraan yang ditumpanginya bermasalah di jalan, sehingga ia tidak sempat lagi mempersiapkan dirinya dengan lebih baik, sehingga terburu-buru menuju ke kampusnya.
Kecenderungan untuk menempatkan factor internal atau penyebab disposisional, cukup besar ditampilkan oleh banyak orang. Fenomena yang ditandai oleh kecenderungan kurang mempertimbangkan factor penyebab ekternal ini oleh Jones (1979) disebut sebagai bias koresponensi. Bias persepsi lain yang cenderung dilakukan oleh orang kebanyakan adalah bias terhadap kelompok sendiri atau disebut in-group bias atau in group favoritism (favoritisme terhadap kelompok sendiri.. Bias ini disebabkan karena kita mempunyai kecendurungan untuk menyukai anggota-anggota kelompok kita sendiri dibandingkan anggota-anggota kelompok lain (Allaen and Wilder, 1975). Contohnya ketika seseorang menilai calon anggota DPR dari dua partai tertentu (partai X dan Y) yang mana kedua partai tersebut setara dalam berbagai hal, orang tersebut cenderung memilih calon dari partai Y jika ia sendiri adalah anggota atau simpatisan partai Y. Penilaian tersebut semata-mata karena calon dari partai Y sekelompok dengan orang yang menilai.
Dalam keadaan tertentu, sangat mungkin kita juga menampilkan bias yang bertentangan dengan anggota in group. Bias tersebut bisa jadi karena anggota kelompok kita sendiri bertingkah laku secara negative. Artinya anggota kelompok kita itu telah bergeser dari nilai dan norma kelompok. Bias ini sangat terkait dengan masalah identitas kelompok social kita. Ketika seseorang dalam kelompok social saya melakukan sesuatu yang baik maka saya juga merasa baik tentang diri saya. Akan tetapi kalau seseorang dari kelompok saya melakukan hal yang buruk, maka saya merasa buruk juga, bisaa saja hal ini terjadi karena saya mengetahui bahwa orang lain akan menilai saya berdasarkan tingkah laku anggota-anggota kelompok saya bergabung. Dalam keadaan tersebut, saya mungkin memperlakukan atau mengevaluasi hal-hal buruk yang dilakukan oleh anggota kelompok saya secara lebih negative daripada hal-hal buruk serupa yang ditampilkan orang dari kelompok lain. Nah kondisi atau keadaan yang demikian ini dalam psikologi social dikenal dengan sebutan efek kambing hitam atau black sheep effect (Marques & Leyens, 1988).
Bias dalam persepsi social juga bisa terjadi karena adanya asimetri antara kelompok sendiri dan kelompok lain (in group-out-group asymmetry), yaitu kecenderungan orang untuk memepersepsikan kelompok sendiri dengan cara-cara standart yang berbeda dengan cara dan standart mempersepsikan orang lain.
Ada beberapa bias atau kesesatan dalam persepsi sosial, antara lain yaitu:
1.    Hallo Effect
Merupakan kecenderung untuk mempersepsi orang secara konsisten. Hallo effect ini secara umum terjadi karena individu hanya mendasarkan persepsinya hanya pada kesan fisik atau karakteristik lain yang bisa diamati.
2.    Forked Tail Effect (negative hallo)
Merupakan lawan dari hallo effect, yaitu melebih-lebihkan kejelekan orang hanya berdasarkan satu keadaan yang dinilai buruk.

D.  Elemen-Elemen dalam Persepsi Sosial

Brems & Kassin (dalam Lestari, 1999) mengatakan bahwa persepsi sosial memiliki beberapa elemen, yaitu:
1.    Person, yaitu orang yang menilai orang lain.
2.    Situasional, urutan kejadian yang terbentuk berdasarkan pengalaman orang untuk meniiai sesuatu.
3.    Behavior, yaitu sesuatu yang di lakukan oleh orang lain. Ada 2 pandangan mengenai proses persepsi yaitu :
a.       Persepsi sosial berlangsung cepat dan otomatis tanpa banyak pertimbangan orang membuat kesimpulan tentang orang lain dengan cepat berdasarkan penampilan fisik
b.      Persepsi sosial adalah sebuah proses yang kompleks orang mengamati perilaku orang lain dengan teliti hingga diperoleh analisis secara lengkap terhadap person, situasional dan behavior.



E.  Sifat-Sifat dalam Persepsi Sosial

Persepsi terjadi di dalam benak individu yang mempersepsi, bukan di dalam objek, dan selalu merupakan pengetahuan tentang penampakan. Maka, apa yang mudah bagi kita boleh jadi tidak mudah bagi orang lain, atau apa yang jelas bagi orang lain mungkin terasa membingungkan bagi kita. Dalam konteks inilah kita perlu memahami tataran intra pribadi dari komunikasi antarpribadi dengan melihat lebih jauh sifat-sifat persepsi.
1.        Persepsi adalah pengalaman. Untuk mengartikan makna dari seseorang, objek, atau peristiwa, kita harus memiliki dasar/basis untuk melakukan interpretasi. Dasar ini biasanya kita temukan pada pengalaman masa lalu kita dengan orang, objek, atau peristiwa tersebut, atau dengan hal-hal yang menyerupainya. Tanpa landasan pengalaman sebagai pembanding, tidak mungkin untuk mempersepsikan suatu makna, sebab ini akan membawa kita kepada suatu kebingungan.
2.        Persepsi adalah selektif. Ketika mempersepsikan sesuatu, kita cenderung memperhatikan hanya bagian-bagian tertentu dari suatu objek atau orang. Dengan kata lain, kita melakukan seleksi hanya pada karakteristik tertentu dari objek persepsi kita dan mengabaikan yang lain. Dalam hal ini biasanya kita mempersepsikan apa yang kita “inginkan” atas dasar sikap, nilai, dan keyakinan yang ada dalam diri kita, dan mengabaikan karakteristik yang tidak relevan atau berlawanan dengan nilai dan keyakinan tersebut.
3.        Persepsi adalah penyimpulan. Proses psikologis dari persepsi mencakup penarikan kesimpulan melalui suatu proses induksi secara logis. Interpretasi yang dihasilkan melalui persepsi pada dasarnya adalah penyimpulan atas informasi yang tidak lengkap. Dengan kata lain, mempersepsikan makna adalah melompat kepada suatu kesimpulan yang tidak sepenuhnya didasarkan atas data yang dapat ditangkap oleh indra kita. Sifat ini saling mengisi dengan sifat kedua. Pada sifat kedua persepsi adalah selektif karena keterbatasan kapasitas otak maka kita hanya dapat mempersepsi sebagian karakteristik dari objek. Melalui penyimpulan ini kita berusaha mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai objek yang kita persepsikan atas dasar sebagian karakteristik dari objek tersebut.
4.        Persepsi tidak akurat. Setiap persepsi yang kita lakukan, akan mengandung kesalahan dalam kadar tertentu. Hal ini disebabkan antara lain oleh pengaruh pengalaman masa lalu, selektivitas, dan penyimpulan. Biasanya ketidakakuratan ini terjadi karena penyimpulan yang terlalu mudah, atau menyamaratakan. Adakalanya persepsi tidak akurat karena orang menanggap sama sesuatu yang sebenarnya hanya mirip. Dan semakin jauh jarak antara orang yang mempersepsi dengan objeknya maka semakin tidak akurat persepsinya. Meskipun demikian kita biasanya mengabaikan ketidakakuratan tersebut dalam kegiatan persepsi kita sehari-hari, dan ketidakakuratan persepsi tidak selalu menjadi/menimbulkan masalah dalam komunikasi antarpribadi.
5.        Persepsi adalah evaluatif. Persepsi tidak akan pernah objektif, karena kita melakukan interpretasi berdasarkan pengalaman dan merefleksikan sikap, nilai dan keyakinan pribadi yang digunakan untuk memberi makna pada objek persepsi. Karena persepsi merupakan proses kognitif psikologis yang ada di dalam diri kita maka bersifat subyektif.







BAB III

PENUTUP



A.    Simpulan

Berdasarkan makalah yang telah dikemukakan, Persepsi dalam pengertian psikologi menurut Sarwono (2002:94) adalah proses pencarian informasi untuk dipahami. Alat untuk memperoleh informasi tersebut adalah penginderaan (penglihatan, pendengaran, peraba dan sebagainya). Sebaliknya, alat untuk memahaminya adalah kesadaran atau kognisi. Dalam hal persepsi mengenai orang itu atau orang-orang lain untuk memahami orang dan orang-orang lain, persepsi itu dinamakan persepsi sosial dan kognisinya pun dinamakan kognisi sosial.
Pembahasan makalah mengenai persepsi seseorang berarti membahas bagaimana terjadinya proses persepsi itu sendiri, yang dimana proses persepsi terjadi ketika kita menerima stimulus melalui penginderaan. Dalam segi penilaian seseorang juga akan memiliki persepsi yang berbeda pula, tergantung dari mana ia menilai sesuatu, bisa dari ekspresi emosional wajah, bentuk tubuh, cara berpenampilan, gaya bahasa. Persepsi seseorang terhadap orang lain sangat tergantung dengan komunikasi. Komunikasi sering dilakukan orang untuk mempertegas kesan dan akan berpengaruh pada hasil persepsi.

B.     Saran

Bahwa kita sebagai manusia harus mengungkapkan pemikiran, pendapat perasaan dan pengalaman sehingga tidak akan mengalami persepsi yang berbeda-beda dan akan menghasilkan keharmonisan yang baik satu dengan yang lainnya.



DAFTAR PUSTAKA


Rahman, Agus Abdul. 2013. Psikologi Sosial: Integrasi Pengetahuan Wahyu dan Pengetahuan Empirik. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Taylor, Shelley E, dkk. 2009. Psikologi Sosial, Edisi Kedua Belas. Jakarta: Kencana.
http://www.kompasiana.com Dirgagunarsa, Singgih. 1975. Pengantar Psikologi. Jakarta : Mutiara. (Di unduh tanggal 28 September 2017).
Atika,Nofrida(http://www.academia.edu/6666230/Makalah__persepsi_sosial?login=&email_was_taken=true (di unduh tanggal 26 September 2017, pukul 19:23 WIB).