Makalah
Persepsi
Sosial
Dosen Pengampu :
Cici
Yulia, M.Pd.
Disusun sebagai
Tugas Mata Kuliah Bimbingan dan Konseling Sosial

Disusun Oleh :
Kelas : 3A
1. Fikriyyah
Hanifah 1601015021
2. Zainina
Sabihah 1601015105
3. Hafidz
M. Harahap 1601015070
PROGRAM
STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah Bimbingan dan Konseling Sosial tentang Persepsi Sosial.
Makalah ini telah
kami susun dengan maksimal sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.
Untuk itu kami telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas
dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari
segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat
memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah Bimbingan dan
Konseling Sosial tentang Persepsi Sosial ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi
terhadap pembaca.
Jakarta, 29 September 2017
Penyusun
DAFTAR
ISI
BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Ketika terjadi kontak
sosial, secara sadar ataupun tidak, kita biasanya berusaha untuk membangun
pemahaman mengenai orang-orang yang ada disekitar kita. Sebagian orang mungkin
tampak sebagai orang ramah, pengertian, suka mengalah, solider, dan senang
bergaul; sebagian lagi tampak arogan, sok tahu, dominan, ngotot, dan sangat
percaya diri. Proses yang kita lakukan di dalam memahami dan menilai orang lain
selama terjadi interaksi sosial tersebut biasa disebut dengan persepsi sosial. Mengapa
kita melakukan persepsi sosial? Menurut Heider (1958), persepsi sosial tersebut
bersumber dari dua kebutuhan yaitu kebutuhan untuk memahami (need of cognition) dan kebutuhan untuk
mengendalikan lingkungan (need of control).
Pertama,
kita mempunyai kebutuhan untuk memahami lingkungan, termasuk kebutuhan untuk
memahami orang-orang yang ada disekitar kita. Tentu, kita tidak akan nyaman
jika berbicara dengan orang namanya saja tidak diketahui; atau kita pun akan
merasa kebingungan dengan perilaku seorang teman yang tiba-tiba saja berubah
menjadi begitu sangat perhatian kepada kita. Kejadian tersebut membuat bingung
dan tidak nyaman karena pada saat itu tidak tahu karakteristik ataupun motivasi
dari orang tersebut. Kita menjadi khawatir karena tidak ada kepastian bahwa
karakteristik dan motivasi perilaku mereka tersebut tidak akan berdampak buruk
pada kehidupan kita.
Kebutuhan
yang kedua adalah kebutuhsn untuk
mengendalikan lingkungan. Kebutuhan untuk mengendalikan tersebut berkaitan
dengan kebutuhna untuk memahami. Pemahaman mengenai karakteristik dan motivasi
orang lain, akan membuat kita lebih mudah di dalam memprediksi dan menentukan
apa yang sebaiknya kita lakukan. Jika berada di tengah orang-orang yang sama
sekali tidak dikenal, kita akan mengalami ketidaknyamanan dan kebingungan di
dalam menentukan sikap dan perilaku yang paling tepat dan tidak akan
menimbulkan kesulitan. Kebingungan tersebut sebagiannya bersumber dari
ketidaktahuan dan ketidakmampuan mengendalikan lingkungan yang ada di sekitar
kita. Oleh karena itu, supaya dapat memenuhi kedua kebutuhan tersebut, kita
kemudian melakukan persepsi sosial sehingga lingkungan sosial menjadi lebih
bisa dipahami dan diprediksi.
B.
RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas, maka kita dapat
menyimpulkan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa
Konsep Dasar dalam Persepsi Sosial?
2. Apa
Saja Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Sosial?
3. Apa
Saja Bias Dalam Persepsi Sosial?
4. Apa
Saja Elemen-Elemen dalam Persepsi Sosial?
5. Apa
Saja Sifat-Sifat dalam Persepsi Sosial?
C.
TUJUAN PENULISAN MAKALAH
1. Mengetahui
apa konsep dasar dalam persepsi sosial,
2. Mengetahui
apa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi persepsi sosial,
3. Mengetahui
apa bias dalam persepsi sosial,
4. Mengetahui
apa elemen-elemen yang terdapat dalam persepsi sosial,
5.
Mengetahui apa sifat-sifat yang terdapat
dalam persepsi sosial.
A. Konsep Dasar Persepsi Sosial
1.
Pengertian
Persepsi Sosial
Persepsi berlangsung saat seseorang
menerima stimulus dari dunia luar yang ditangkap oleh organ-organ bantunya yang
kemudian masuk ke dalam otak. Di dalamnya terjadi proses berpikir yang pada
akhirnya terwujud dalam sebuah pemahaman. Pemahaman ini yang kurang lebih
disebut persepsi. Sebelum terjadi persepsi pada manusia, diperlukan sebuah
stimuli yang harus ditangkap melalui organ tubuh yang bisa digunakan sebagai
alat bantu untuk memahami lingkungannya. Alat bantu itu dinamakan alat indra.
Indra yang saat ini diketahui secara universal adalah hidung, mata, telinga,
lidah, dan kulit. Alat indra merupakan penghubung antara individu
dengan dunia luarnya.
Sebagai contoh pada seorang bayi
yang baru lahir, bayangan – bayangan yang sampai ke otak masih tercampur aduk
sehingga bayi belum dapat membeda-bedakan benda-benda dengan jelas. Semakin
besar anak itu, semakin baik struktur susunan syaraf dan otaknya, serta
bertambahnya pengalaman anak tersebut. Dia mulai dapat mengenal banyak objek
satu-persatu, membedakan antara satu benda dengan benda yang lainnya dan
mengelompokan benda-benda yang berdekatan atau serupa. Dia mulai dapat
memfokuskan perhatiannya pada satu objek, sedangkan objek-objek yang lain si
sekitarnya dianggap sebagai latar belakang. Kemampuan untuk membeda-bedakan,
mengelompokan, memfokuskan dan sebagainya itu, yang selanjutnya
diinterpretasikan disebut persepsi.
Persepsi dalam pengertian psikologi
adalah proses pencarian informasi untuk dipahami, jadi melalui persepsi sosial
kita berusaha mencari tahu dan memahami orang lain. Lebih khususnya lagi,
dengan persepsi sosial kita berusaha (1) Mengetahui apa yang dipikirkan,
dipercaya, dirasakan, diniatkan, dikehendaki, dan didambakan orang lain; (2) Membaca
apa yang ada di dalam diri orang lain berdasarkan ekpresi wajah, tekanan suaram
gerak-gerik tubuh, kata-kata, dan tingkah laku mereka; (3) Menyesuaikan
tindakan sendiri dengan keberadaan orang lain berdasarkan pengetahuan dan
pembacaan terhadap orang tersebut (Sarlito dan Eko, 2009).
Robbins (Dr. Fattah Hanurawan,
2010), mengemukakan bahwa persepsi sosial adalah proses dalam diri seseorang
yang menunjukan organisasi dan interpretasi terhadap kesan-kesan inderawi,
dalam usaha untuk memberi makna terhadap orang lain sebagai objek persepsi.
Menurut Moskowitz dan Ogel (dalam
Walgito, 2003:54) persepsi merupakan proses yang integrated dari individu
terhadap stimulus yang diterimanya. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa
persepsi itu merupakan proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap
stimulus yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu
yang berarti dan merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu.
Menurut Leavit (dalam Sobur,
2003:445) persepsi dalam arti sempit adalah penglihatan, bagaimana cara
seseorang melihat sesuatu, sedangkan dalam arti luas persepsi adalah pandangan
atau pengertian yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu.
Persepsi dalam pengertian psikologi
menurut Sarwono (2002:94) adalah proses pencarian informasi untuk dipahami.
Alat untuk memperoleh informasi tersebut adalah penginderaan (penglihatan,
pendengaran, peraba dan sebagainya). Sebaliknya, alat untuk memahaminya adalah
kesadaran atau kognisi. Dalam hal persepsi mengenai orang itu atau orang-orang
lain untuk memahami orang dan orang-orang lain, persepsi itu dinamakan persepsi
sosial dan kognisinya pun dinamakan kognisi social.
Dalam Persepsi sosial ada dua hal
yang ingin diketahui yaitu keadaan dan perasaan orang lain saat ini, di tempat
ini melalui komunikasi non-lisan (kontak mata, busana, gerak tubuh, dan
sebagainya) atau lisan dan kondisi yang lebih permanen yang ada dibalik segala
yang tampak saat ini (niat, sifat, motivasi, dan sebagainya) yang diperkirakan
menjadi penyebab dari kondisi saat ini. Hal yang terakhir ini bersumber pada
kecenderungan manusia untuk selalu berupaya guna mengetahui apa yang ada di
balik gejala yang ditangkapnya dengan indra (Sarwono, 2002:95).
2.
Proses Persepsi Sosial
Persepsi orang sebagai semacam
proses yang relative rasional dalam mengambil informasi tentang orang lain dan
mengorganisasikannya berdasarkan prinsip tertentu. Tujuan dan perasaan kita
terhadap orang lain juga memengaruhi pandangan kita tentang informasi yang kita
kumpulkan mengenai orang lain. Salah satu faktor yang memengaruhi cara kita
mengumpulkan informasi tentang orang lain adalah tujuan kita dalam berinterkasi
dengan mereka. Psikolog telah mempelajari tujuan dan dampak tujuan persepsi
seseorang melalui sebuah eksperimen, seperti meminta partisipan untuk membentuk
kesan yang koheren tentang orang lain (tujuan membentuk kesan) atau untuk
mengingat beberapa informasi terpisah (tujuan mengingat). Secara umum, dalam
rangka membuat kesan, orang membentuk kesan tentang orang lain secara lebih
tertata apabila tujuannya adalah untuk mengingat informasi saja (Matheson,
Holmes, & Kristiansen, 1991).
Dalam
buku Sarwono, Sarlito W. 2002 diambil contoh (Diringkas dari cerpen karangan
Putu Wijaya dalam Pelajaran Mengarang, Cerpen Pilihan, Kompas, 1993)
Bule dan orang Bali ini adalah
dua sahabat lama. Ketika Bule tertirah di Bali, Wayan banyak memberikan petunjuk
dan suka mengantarkan Bule melihat objek-objek menarik yang bukan pasaran
turi. Antara mereka sudah terjalin persahabatan.
“Mister John sudah seperti
saudara meskipun warga kulit lain. Pak John sudah makan dan tidur di rumah
saya yang sederhana. Saya merasa salah kalau tidak sempat melihat Mister John
sebelum berangkat,” tulis Wayan kepada John yang tinggal di Jakarta dan akan
segera kembali ke negerinya.
John jadi terenyuh. Ia membelikan
tiket untuk Wayan. Tetapi ketika Wayan datang, ia tidak sendiri. Ia ditemani
oleh keponakannya, seorang anak muda. Wayan mengaku tidak berani ke Jakarta
sendiri, takut tersesat.
Mister John kaget. Ia menganggap itu
di luar perencanaannya, khususnya perencanaan budgetnya. Tetapi, karena Wayan
mengeluh terus tentang pinjaman uang ke tetangga-tetangganya untuk ongkos
tiket keponakannya ini, John akhirnya bersedia mengganti ongkos tiket itu. Ia
tak mau kegembiraan Wayan terganggu.
|
Dalam kutipan cerita pendek di atas,
misalnya, John mempersepsikan Wayan sebagai pribumi yang ramah, mengajaknya
makan dan tidur di rumahnya, mengajaknya jalan-jalan ke tempat yang bukan
pasaran turis dan ia menyimpulkan bahwa perilaku Wayan itu disebabkan oleh
sifatnya yang baik hati. Oleh karena itu, John mengatribusikan Wayan sebagai
orang yang baik hati. Akan tetapi, atribusi itu berubah setelah ada informasi
tambahan sehingga akhirnya John menganggap Wayan sebagai orang yang menyusahkan
saja. Demikian juga, Wayan mempersepsikan John sebagai bule yang tidak sombong,
yang mau diajak makan dan tidur di rumahnya yang sederhana, karena itu atribusi
yang diberikan Wayan kepada John adalah baik hati dan mungkin juga murah hati.
Akan tetapi, setelah Wayan ke Jakarta, ternyata John tidak mau membelikan tiket
untuk keponakannya dan menyuruhnya pulang cepat-cepat. Simpulan Wayan adalah
perilaku John disebabkan oleh sifatnya yang menjajah orang dan itulah atribusi
yang diberikan Wayan kepada John di akhir kisah.
Persepsi dan atribusi ini sifatnya
memang sangat subjektif, yaitu tergantung sekali pada subjek yang melaksanakan
persepsi dan atribusi itu. Perilaku membunuh, misalnya, dapat dianggap kelakuan
penjahat yang sadis, bela diri atau kepahlawanan. Sapaan seorang pria kepada
rekan wanitanya dengan menyentuh punggungnya, misalnya, dapat dianggap
pelecehan seksual oleh wanita, walapun pria yang bersangkutan hanya
menganggapnya sebagai keramah-tamahan biasa.
Persepsi sosial kadang-kadang serupa,
sama atau seragam, sementara kadang-kadang juga berbeda. Dijelaskan oleh Kenny
(1994) bahwa ada perbedaan antara persepsi tentang orang (person
perception), yaitu 1) objeknya lebih abstrak, (lebih hipotetis) sehingga
orang cenderung memberi persepsi yang sama; 2) objeknya lebih konkret atau
merupakan pengalaman pribadi. Dalam hubungan antara pribadi yang lebih konkret
itu lebih banyak faktor yang berpengaruh, seperti motif, perilaku kita sendiri
terhadap orang lain yang kemudian mempengaruhi perilaku orang tersebut tentu
saja proses kognitif itu sendiri yang menjadi lebih majemuk.
Selain perbedaan persepsi menurut Kenny,
faktor perbedaan kepribadian juga berpengaruh terhadap persepsi sosial,
misalnya ekstroversi dan introversi (Ambudy dkk.,1995), kesadaran akan diri
sendiri, rasa malu, dan cemas (Schroeder,1995), kemampuan social dan tingkat
kecemasan (Tur & Bryan, 1993).
Persepsi sosial berbeda dari persepsi
pada umumnya, yaitu persepsi sosial sangat menggantungkan diri pada komunikasi.
Persepsi seseorang tentang orang lain sangat bergantung pada komunikasi yang
terjadi antara keduanya. Komunikasi yang dimaksud tidak berti hanya komunikasi
lisan (percakapan), tetapi juga komunikasi nonlisan (gerak, tubuh, ekspresi,
wajah, dan sebagainya). Komunikasi nonlisan jauh lebih bermakna daripada
komunikasi lisan dalam persepsi sosial.
Contohnya adalah dalam bertelpon. Kalau
yang menerima telepon adalah mesin penjawab otomatis (answering machine) atau
suara komputer, maka kita hanya bisa menerima informasi belaka (“Halo, kami
sedang tidak di rumah, titipkan pesan Anda setelah terdengar nada bip” atau
“Terima kasih Anda telah menggunakan jasa PT TELKOM. Untuk mengetahui rekening
Anda bulan lalu, silakan tekan satu...., dan seterusnya”). Tidak ada atribusi
yang dapat kita simpulkan dari komunikasi sejenis ini, yaitu apakah suara mesin
atau komputer itu marah atau ramah tidak dapat ditetapkan sama sekali.
Sebaliknya, jika dua orang bertatap muka, walapun tidak biacara sekalipun,
dapat timbul atribusi-atribusi tertentu, yaitu apakah orang itu tersenyum atau
mengedipkan mata, atau wajahnya cemberut, dan sebagainya semuanya itu
mennyebabkan kita dapat memperkirakan atribusi di balik perilaku. Apalagi
antara dua orang yang berpacaran. Biar diam seribu bahasa, dua pasang mata yang
berpandangan dapat menjadi pengungkap rasa. Dengan demikian, kalaupun atribusi
terjadi komunikasi lisan, penyimpulan atau perkiraan atribusi bukan didasarkan
oleh isi ucapan-ucapan lisan semata, melainkan karena perilaku yang menyertai
komunikasi lisan itu. Dalam kasus cerpen di atas, misalnya, John
mengatribusikan Wayan sebagai pribumi yang wataknya jelek bukan karena
kata-katanya semata, melainkan karena selama Wayan tinggal di rumah John ia
tidak pernah menanyakan keadaan John dan tiba-tiba ia membawa keponakannya
tanpa persetujuan John.
Dalam percakapan telepon (tanpa tatap
muka) jika percakapan itu terjadi secara langsung antarpribadi, terjadi proses
saling memberi atribusi. Akan tetapi, bukan berdasarkan isi percakapan, melainkan
berdasarkan nada suara, tekanan suara, tarikan napas, teriakan kecil, tangisan,
keluhan, tawa, dan isyarat-isyarat nonlisan lainnya.
Komunikasi lisan sering kali kurang
dapat dipercaya dibandingkan dengan komunikasi nonlisan. Oleh karena itu, di kalangan
pemuda-pemudi yang sedang dirundung asmara ada istilah “rayuan gombal” atau
“janji palsu” atau “berani sumpah tapi takut mati”.
Namun demikian, jangan disangka bahwa
komunikasi lisan sudah pasti mencerminkan keadaan diri seseorang secara benar
seratus persen. Friesen (1972), misalnya, pernah membuat penelitian terhadap
sekelompok mahasiswa Jepang dan Amerika.
Mereka dipertunjukkan dua buah film, yaitu film tentang penyikasaan
manusia dan film biasa. Kelompok pertama dari mahasiswa Jepang dan Amerika
melihat film di antara mereka sendiri (tanpa kehadiran dosen), sedangkan
kelompok kedua menontonya dengan dihadiri dosen. Selama mereka menonton, wajah
mereka direkam dengan video. Hasilnya cukup menakjubkan. Pada kelompok yang
tidak dihadiri dosen, mahasiwa Jepang dan Amerika sama-sama menunjukkan
ekspresi wajah muak sewaktu menonton film penyiksaan. Sebaliknya, pada kelompok
kedua yang menonton bersama dosennya, mahasiswa Amerika tetap memperlihatkan
wajah muak, sementara siswa-siswa Jepang tenang-tenang saja malah
tersenyum-senyum. Jelaslah bahwa walapun emosi mungkin sama pada semua orang
tetapi cara mengekspresikan emosi berlainan antara satu kebudayaan dan
kebudayaan lain.
Jadi, kita pun harus berhati-hati dalam
memberikan atribusi pada suatu perilaku. Seorang kasir tokoh swalayan yang
tersenyum kepada setiap pelanggan, belum tentu benar-benar berhati-hati ramah
karena mungkin senyum hanya karena tugas pekerjaannya saja. Sebaliknya, seorang
satpam yang membentak anak-anak kampung agar keluar dari kawasan pertokoan yang
dijaganya, belum tentu berhati bengis terhadap anak-anak.
Penelitian lainnya adalah dampak proses
persepsi sosial dalam perkawinan, misalnya, dampak kita lihat dalam penelitian
terhadap 44 pasangan suami-istri di Norwegia. Hasil penelitian membuktikan
bahwa pasangan yang dapat saling mengerti melalui komunikasi dan sama-sama
merasa dapat saling mempengaruhi (meminta pasangannya untuk melakukan hal
tertentu dan benar-benar dilakukan oleh pasangannya) akan mempunyai lebih
sedikit masalah daripada pasangan-pasangan yang lebih egosentris (kurang mau
mendengar pihak lain) (Wichstrom & Holte, 1993).
B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Sosial
Menurut Stephen P. Robbin
(1989) mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor utama yang memberi pengaruh
terhadap pembentukan persepsi sosial seseorang. Faktor-faktor itu adalah faktor
penerima (the perceiver), situasi (the situation), dan objek sasaran (the
target).
1.
Faktor
Penerima
Pemahaman
sebagai suatu proses kognitif akan sangat dipengaruhi oleh karakteristik
kepribadian seorang pengamat. Diantara karakteristik kepribadian utama itu
adalah konsep diri, nilai dan sikap, pengalaman di masa lampau, dan
harapan-harapan yang terdapat dalam dirinya.
Seseorang
yang memiliki konsep diri (self concept) yang tinggi dan selalu merasa diri
secara mental dalam keadaan sehat, cenderung melihat orang lain dari sudut
tinjauan yang bersifat positif dan optimistik, dibandingkan seseorang yang
memiliki konsep diri rendah. Orang yang memegang nilai dan sikap otoritarian
tentu akan memiliki persepsi sosial yang berbeda dengan orang yang memegang
nilai dan sikap liberal. Pengalaman di masa lalu sebagai bagian dasar informasi
juga menentukan pembentukan persepsi seseorang. Harapan-harapan sering kali
memberi semacam kerangka dalam diri seseorang untuk melakukan penilaian
terhadap orang lain ke arah tertentu.
2.
Faktor
Situasi
Definisi
situasi adalah makna yang diberikan individu terhadap suatu keadaan atau
interpretasi individu terhadap faktor-faktor sosial yang ditemui pada ruang dan
waktu tertentu. Pengaruh faktor situasi dalam proses persepsi sosial dapat
dipilah menjadi tiga, yaitu:
Seleksi à Seseorang
akan lebih memusatkan perhatiannya pada objek-objek yang dianggap lebih
disukai, ketimbang objek-objek yang tidak disukainya. Proses kognitif ini
disebut dengan seleksi informasi tentang keberadaan suatu objek, baik yang
bersifat fisik maupun sosial.
Kesamaan à Kesamaan
adalah kecenderungan dalam proses presepsi sosial untuk mengklasifikasikan
orang-orang ke dalam suatu katagori yang kurang lebih sama. Seperti berlatar
belakang jenis kelamin, status sosial, dan etnik.
Organisasi à Dalam
proses persepsi sosial, individu cenderung untuk memahami orang lain sebagai
objek persepsi ke dalam sistem yang bersifat logis, teratur, dan runtun.
Pemahaman sistematik semacam itu biasa disebut dengan organisasi perceptual.
Para
ahli psikologi sosial memandang situasi sebagai keseluruhan faktor yang dapat
mempengaruhi perilaku individu pada ruang dan waktu tertentu.
Definisi
situasi adalah makna yang diberikan individu terhadap suatu keadaan atau
interpretasi individu terhadap faktor-faktor sosial yang ditemui pada ruang dan
waktu tertentu. Para ahli sosiologi menyimpulkan bahwa apabila manusia
mendefinisikan situasi sebagai sesuatu yang bersifat nyata, maka itu akan
menjadi nyata dalam konsekuensi perilakunya.
3.
Faktor
Objek
Dalam
persepsi sosial secara khusus, objek yang diamati itu adalah orang lain. Ada
empat ciri yang terdapat dalam diri objek yang dapat memberi pengaruh terhadap
terbentuknya persepsi sosial, yaitu:
Keunikan à Ciri-ciri
unik yang terdapat dalam diri seseorang adalah salah satu unsur penting yang
menyebabkan orang lain merasa tertarik untuk memusatkan perhatiannya.
Kekontrasan à
Seseorang akan lebih mudah dipersepsi orang lain terutama apabila ia memiliki
karakteristik berbeda disbanding lingkungan fisik maupun sosialnya.
Ukuran dan intensitas yang terdapat dalam diri objek
à Dalam konteks ini,
seorang Miss world dengan ukuran fisik tertentu dan wajah cantik akan lebih
mudah menmbulkan kesan pada orang lain ketimbang apabila seseorang melihat
gadis-gadis pada umumna.
Kedekatan (proximity) objek dengan latar belakang
sosial orang lain. à
Orang-orang dalam suatu departemen tertentu akan cenderung untuk
diklasifikasikan sebagai memiliki ciri-ciri yang sama karena hubungan yang
dekat di antara mereka.
Menurut Rakhmat (1994): Krech dan
Crutchfield (1975) (dalam Sobur:460) faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi
dapat dikategorikan menjadi:
1.
Faktor fungsional
Faktor fungsional
dihasilkan dari kebutuhan, kegembiraan (suasana hati), pelayanan, dan
pengalaman masa lalu seseorang individu.
2.
Faktor-faktor
struktural
Faktor-faktor
struktural berarti bahwa faktor-faktor tersebut timbul atau dihasilkan dari bentuk
stimulus dan efek-efek netral yang ditimbulkan dari sistem syaraf individu.
3.
Faktor-faktor
situasional
Faktor ini banyak
berkaitan dengan bahasa nonverbal. Petunjuk proksemik, petunjuk kinesik,
petunjuk wajah, petunjuk paralinguistik adalah beberapa dari faktor situasional
yang mempengaruhi persepsi.
4.
Faktor personal
Faktor personal ini
terdiri atas pengalaman, motivasi dan kepribadian.
C. Bias dalam Persepsi Sosial
Seringkali penilain seseorang atas orang
lain hanya didasarkan pada penampilan disaat orang-orang tersebut pertama kali
berinteraksi. Dengan kata lain orang sering menilai orang hanya berdasarkan
penampilan pertamanya. Orang yang menampilkan kesan baik pada saat pertama kali
bertemu, cenderung dianggap baik untuk seterusnya. Bias atau
deviasi seperti ini biasanya disebut sebagai bias efek halo. Namun demikian
kadang-kadang kita juga cenderung menilai orang yang menampilkan kesan buruk
pada saat kita pertama kali bertemu dengannya sebagai orang buruk seterusnya.
Bias seperti ini disebut Negativitas.
Kecenderungan mengandalkan penilaian
terhadap orang lain pada kesan pertama akan menjadi atau menimbulkan bias
karena penyimpulan yang dibuat tersebut tidak didasari informasi yang lengkap
(sarlito, 2009) Informasi tentang seseorang yang diperoleh pada saat pertama
kali bertemu tidaklah mewakili keseluruhan pikiran dan perasaan orang tersebut.
Dalam keseharian, tidak jarang kita menilai seseorang dari rangkaian tindakannya yang dapat kita asosiasikan dengan sifat-sifat tertentu. Sebagai contoh misalnya, suatu ketika pada saat perkuliahan sudah dimulai lebih kurang setengah jam, masuklah seorang mahasiswa yang datang terlambat. Dengan terburu-buru mahasiswa tersebut mencari tempat duduk yang masih kosong dan tersedia untuknya. Setelah duduk mahasiswa tersebut segera mengeluarkan beberapa barang dari tasanya dengan tergopoh-gopoh pula, kemudian memasukkan lagi ke dalam tasnya karena tidak menemukan barang yang dicarinya. Kemudian dengan tergopoh pula dia mencari sesuatu di semua saku baju dan celannya dan sepertinya dia menemukan apa yang dia cari. Pakaian yang dikenakannya tampak kusut dan rambutnya tidak tersisir rapi. Dari contoh misal tersebut bisa saja kita dengan mudah menilainya sebagai orang yang tidak tertip dan tidak bisa mengatur dirinya dengan baik dan juga orang yang berantakan. Apakah penilaian kita tersebut akurat ? bisa jadi, tidak. Mahasiswa itu menampilkan tingkah laku tersebut, bisa jadi karena dalam perjalanan menuju ke kampus kendaraan yang ditumpanginya bermasalah di jalan, sehingga ia tidak sempat lagi mempersiapkan dirinya dengan lebih baik, sehingga terburu-buru menuju ke kampusnya.
Kecenderungan untuk menempatkan factor internal atau penyebab disposisional, cukup besar ditampilkan oleh banyak orang. Fenomena yang ditandai oleh kecenderungan kurang mempertimbangkan factor penyebab ekternal ini oleh Jones (1979) disebut sebagai bias koresponensi. Bias persepsi lain yang cenderung dilakukan oleh orang kebanyakan adalah bias terhadap kelompok sendiri atau disebut in-group bias atau in group favoritism (favoritisme terhadap kelompok sendiri.. Bias ini disebabkan karena kita mempunyai kecendurungan untuk menyukai anggota-anggota kelompok kita sendiri dibandingkan anggota-anggota kelompok lain (Allaen and Wilder, 1975). Contohnya ketika seseorang menilai calon anggota DPR dari dua partai tertentu (partai X dan Y) yang mana kedua partai tersebut setara dalam berbagai hal, orang tersebut cenderung memilih calon dari partai Y jika ia sendiri adalah anggota atau simpatisan partai Y. Penilaian tersebut semata-mata karena calon dari partai Y sekelompok dengan orang yang menilai.
Dalam keseharian, tidak jarang kita menilai seseorang dari rangkaian tindakannya yang dapat kita asosiasikan dengan sifat-sifat tertentu. Sebagai contoh misalnya, suatu ketika pada saat perkuliahan sudah dimulai lebih kurang setengah jam, masuklah seorang mahasiswa yang datang terlambat. Dengan terburu-buru mahasiswa tersebut mencari tempat duduk yang masih kosong dan tersedia untuknya. Setelah duduk mahasiswa tersebut segera mengeluarkan beberapa barang dari tasanya dengan tergopoh-gopoh pula, kemudian memasukkan lagi ke dalam tasnya karena tidak menemukan barang yang dicarinya. Kemudian dengan tergopoh pula dia mencari sesuatu di semua saku baju dan celannya dan sepertinya dia menemukan apa yang dia cari. Pakaian yang dikenakannya tampak kusut dan rambutnya tidak tersisir rapi. Dari contoh misal tersebut bisa saja kita dengan mudah menilainya sebagai orang yang tidak tertip dan tidak bisa mengatur dirinya dengan baik dan juga orang yang berantakan. Apakah penilaian kita tersebut akurat ? bisa jadi, tidak. Mahasiswa itu menampilkan tingkah laku tersebut, bisa jadi karena dalam perjalanan menuju ke kampus kendaraan yang ditumpanginya bermasalah di jalan, sehingga ia tidak sempat lagi mempersiapkan dirinya dengan lebih baik, sehingga terburu-buru menuju ke kampusnya.
Kecenderungan untuk menempatkan factor internal atau penyebab disposisional, cukup besar ditampilkan oleh banyak orang. Fenomena yang ditandai oleh kecenderungan kurang mempertimbangkan factor penyebab ekternal ini oleh Jones (1979) disebut sebagai bias koresponensi. Bias persepsi lain yang cenderung dilakukan oleh orang kebanyakan adalah bias terhadap kelompok sendiri atau disebut in-group bias atau in group favoritism (favoritisme terhadap kelompok sendiri.. Bias ini disebabkan karena kita mempunyai kecendurungan untuk menyukai anggota-anggota kelompok kita sendiri dibandingkan anggota-anggota kelompok lain (Allaen and Wilder, 1975). Contohnya ketika seseorang menilai calon anggota DPR dari dua partai tertentu (partai X dan Y) yang mana kedua partai tersebut setara dalam berbagai hal, orang tersebut cenderung memilih calon dari partai Y jika ia sendiri adalah anggota atau simpatisan partai Y. Penilaian tersebut semata-mata karena calon dari partai Y sekelompok dengan orang yang menilai.
Dalam keadaan tertentu, sangat mungkin
kita juga menampilkan bias yang bertentangan dengan anggota in group. Bias
tersebut bisa jadi karena anggota kelompok kita sendiri bertingkah laku secara
negative. Artinya anggota kelompok kita itu telah bergeser dari nilai dan norma
kelompok. Bias ini sangat terkait dengan masalah identitas kelompok social
kita. Ketika seseorang dalam kelompok social saya melakukan sesuatu yang baik
maka saya juga merasa baik tentang diri saya. Akan tetapi kalau seseorang dari
kelompok saya melakukan hal yang buruk, maka saya merasa buruk juga, bisaa saja
hal ini terjadi karena saya mengetahui bahwa orang lain akan menilai saya
berdasarkan tingkah laku anggota-anggota kelompok saya bergabung. Dalam keadaan
tersebut, saya mungkin memperlakukan atau mengevaluasi hal-hal buruk yang
dilakukan oleh anggota kelompok saya secara lebih negative daripada hal-hal
buruk serupa yang ditampilkan orang dari kelompok lain. Nah kondisi atau
keadaan yang demikian ini dalam psikologi social dikenal dengan sebutan efek
kambing hitam atau black sheep effect (Marques &
Leyens, 1988).
Bias dalam persepsi social juga bisa
terjadi karena adanya asimetri antara kelompok sendiri dan kelompok lain (in
group-out-group asymmetry), yaitu kecenderungan orang untuk memepersepsikan
kelompok sendiri dengan cara-cara standart yang berbeda dengan cara dan
standart mempersepsikan orang lain.
Ada beberapa bias atau kesesatan dalam
persepsi sosial, antara lain yaitu:
1. Hallo
Effect
Merupakan
kecenderung untuk mempersepsi orang secara konsisten. Hallo effect ini secara
umum terjadi karena individu hanya mendasarkan persepsinya hanya pada kesan fisik
atau karakteristik lain yang bisa diamati.
2. Forked
Tail Effect (negative hallo)
Merupakan lawan dari
hallo effect, yaitu melebih-lebihkan kejelekan orang hanya berdasarkan satu
keadaan yang dinilai buruk.
D. Elemen-Elemen dalam Persepsi Sosial
Brems &
Kassin (dalam Lestari, 1999) mengatakan
bahwa persepsi sosial memiliki beberapa elemen, yaitu:
1. Person, yaitu orang yang menilai orang lain.
2. Situasional, urutan kejadian yang terbentuk
berdasarkan pengalaman orang untuk meniiai sesuatu.
3. Behavior, yaitu sesuatu yang di lakukan oleh orang
lain.
Ada 2 pandangan mengenai proses persepsi yaitu :
a. Persepsi
sosial berlangsung cepat dan otomatis tanpa banyak pertimbangan orang membuat
kesimpulan tentang orang lain dengan cepat berdasarkan penampilan fisik
b. Persepsi
sosial adalah sebuah proses yang kompleks orang mengamati perilaku orang lain
dengan teliti hingga diperoleh analisis secara lengkap terhadap person,
situasional dan behavior.
E. Sifat-Sifat dalam Persepsi Sosial
Persepsi
terjadi di dalam benak individu yang mempersepsi, bukan di dalam objek, dan
selalu merupakan pengetahuan tentang penampakan. Maka, apa yang mudah bagi kita
boleh jadi tidak mudah bagi orang lain, atau apa yang jelas bagi orang lain
mungkin terasa membingungkan bagi kita. Dalam konteks inilah kita perlu
memahami tataran intra pribadi dari komunikasi antarpribadi dengan melihat
lebih jauh sifat-sifat persepsi.
1.
Persepsi adalah pengalaman. Untuk
mengartikan makna dari seseorang, objek, atau peristiwa, kita harus memiliki
dasar/basis untuk melakukan interpretasi. Dasar ini biasanya kita temukan pada
pengalaman masa lalu kita dengan orang, objek, atau peristiwa tersebut, atau
dengan hal-hal yang menyerupainya. Tanpa landasan pengalaman sebagai
pembanding, tidak mungkin untuk mempersepsikan suatu makna, sebab ini akan
membawa kita kepada suatu kebingungan.
2.
Persepsi adalah selektif. Ketika
mempersepsikan sesuatu, kita cenderung memperhatikan hanya bagian-bagian
tertentu dari suatu objek atau orang. Dengan kata lain, kita melakukan seleksi
hanya pada karakteristik tertentu dari objek persepsi kita dan mengabaikan yang
lain. Dalam hal ini biasanya kita mempersepsikan apa yang kita “inginkan” atas
dasar sikap, nilai, dan keyakinan yang ada dalam diri kita, dan mengabaikan
karakteristik yang tidak relevan atau berlawanan dengan nilai dan keyakinan
tersebut.
3.
Persepsi adalah penyimpulan. Proses
psikologis dari persepsi mencakup penarikan kesimpulan melalui suatu proses
induksi secara logis. Interpretasi yang dihasilkan melalui persepsi pada
dasarnya adalah penyimpulan atas informasi yang tidak lengkap. Dengan kata
lain, mempersepsikan makna adalah melompat kepada suatu kesimpulan yang tidak
sepenuhnya didasarkan atas data yang dapat ditangkap oleh indra kita. Sifat ini
saling mengisi dengan sifat kedua. Pada sifat kedua persepsi adalah selektif
karena keterbatasan kapasitas otak maka kita hanya dapat mempersepsi sebagian
karakteristik dari objek. Melalui penyimpulan ini kita berusaha mendapatkan
gambaran yang lebih lengkap mengenai objek yang kita persepsikan atas dasar
sebagian karakteristik dari objek tersebut.
4.
Persepsi tidak akurat. Setiap persepsi
yang kita lakukan, akan mengandung kesalahan dalam kadar tertentu. Hal ini
disebabkan antara lain oleh pengaruh pengalaman masa lalu, selektivitas, dan
penyimpulan. Biasanya ketidakakuratan ini terjadi karena penyimpulan yang
terlalu mudah, atau menyamaratakan. Adakalanya persepsi tidak akurat karena
orang menanggap sama sesuatu yang sebenarnya hanya mirip. Dan semakin jauh
jarak antara orang yang mempersepsi dengan objeknya maka semakin tidak akurat
persepsinya. Meskipun demikian kita biasanya mengabaikan ketidakakuratan
tersebut dalam kegiatan persepsi kita sehari-hari, dan ketidakakuratan persepsi
tidak selalu menjadi/menimbulkan masalah dalam komunikasi antarpribadi.
5.
Persepsi adalah evaluatif. Persepsi
tidak akan pernah objektif, karena kita melakukan interpretasi berdasarkan
pengalaman dan merefleksikan sikap, nilai dan keyakinan pribadi yang digunakan
untuk memberi makna pada objek persepsi. Karena persepsi merupakan proses
kognitif psikologis yang ada di dalam diri kita maka bersifat subyektif.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan
makalah yang telah dikemukakan, Persepsi dalam
pengertian psikologi menurut Sarwono (2002:94) adalah proses pencarian
informasi untuk dipahami. Alat untuk memperoleh informasi tersebut adalah
penginderaan (penglihatan, pendengaran, peraba dan sebagainya). Sebaliknya,
alat untuk memahaminya adalah kesadaran atau kognisi. Dalam hal persepsi
mengenai orang itu atau orang-orang lain untuk memahami orang dan orang-orang
lain, persepsi itu dinamakan persepsi sosial dan kognisinya pun dinamakan
kognisi sosial.
Pembahasan makalah mengenai persepsi seseorang berarti
membahas bagaimana terjadinya proses persepsi itu sendiri, yang dimana proses
persepsi terjadi ketika kita menerima stimulus melalui penginderaan. Dalam segi
penilaian seseorang juga akan memiliki persepsi yang berbeda pula, tergantung
dari mana ia menilai sesuatu, bisa dari ekspresi emosional wajah, bentuk tubuh,
cara berpenampilan, gaya bahasa. Persepsi seseorang terhadap orang lain sangat
tergantung dengan komunikasi. Komunikasi sering dilakukan orang untuk
mempertegas kesan dan akan berpengaruh pada hasil persepsi.
B. Saran
Bahwa kita
sebagai manusia harus mengungkapkan pemikiran, pendapat perasaan dan pengalaman
sehingga tidak akan mengalami persepsi yang berbeda-beda dan akan menghasilkan
keharmonisan yang baik satu dengan yang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Rahman, Agus Abdul. 2013. Psikologi Sosial: Integrasi Pengetahuan
Wahyu dan Pengetahuan Empirik. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Taylor,
Shelley E, dkk. 2009. Psikologi Sosial,
Edisi Kedua Belas. Jakarta: Kencana.
http://www.kompasiana.com Dirgagunarsa,
Singgih. 1975. Pengantar Psikologi. Jakarta : Mutiara. (Di unduh tanggal 28 September
2017).
Atika,Nofrida(http://www.academia.edu/6666230/Makalah__persepsi_sosial?login=&email_was_taken=true (di unduh tanggal 26 September 2017, pukul 19:23 WIB).
Borgata Hotel Casino & Spa - Mapyro
BalasHapusCasino Address; Casino Type; Year Built; Gas Price; 하남 출장안마 Hotel and Spa Details; 양주 출장마사지 Recent Reviews; 양산 출장안마 Amenities. Map of Borgata Hotel 서귀포 출장안마 Casino & Spa. 구리 출장마사지